Dear, Cinta.. (2)


Dear,

Ternyata sulit juga untuk menjalani perpisahan, lebih sulit dari sekedar mengatakan.

Karena ia membawa kesadaran akan segala yang harusnya dan tidak seharusnya aku lakukan.

 

Dear,

Berapa banyak ya, dari kita yang benar-benar menghargai kehidupan?

Maksudku, menghargai bukan hanya dengan mengisinya penuh-penuh dengan semua yang berbobot dan berarti.

Ada beberapa yang selalu terlupakan.

Bahwa kita juga seharusnya menikmati hidup sebagaimana adanya saja.

Bukan hanya mensyukuri pagi yang lengang karena beban pekerjaan yang hilang,

Tapi juga pagi yang sama ketika kita masih bisa menikmati cahaya matahari pagi.

Ketika kita masih bisa bertemu keluarga, sahabat, dan cinta.

 

Dear,

Betapa kita selalu menyesali kehidupan yang telah tersia-siakan kemarin, ketika sadar bahwa kematian sudah dalam perjalanan.

Dan…Kita panik.

Panik karena ternyata ada begitu banyak yang belum sempat kita lakukan,

Ada banyak hal , cinta, kasih sayang yang terpendam, cerita, rahasia, yang belum sempat kita utarakan.

Ada banyak kesalahan yang mungkin akan terlewatkan untuk kita mohonkan maaf.

Ada banyak kebahagiaan kecil yang kita tunda untuk kita rasakan, demi mengejar sesuatu—ambisi atau obsesi, yang bahkan ternyata sampai matipun tak akan terkejar.

 

Dear,

Betapa kita akan menikmati semua yang kita miliki, tepat ketika semua itu akan direnggut dari dekapan.

Kita mengenang sakit hati, dan menyesal karena tak mampu menikmati cinta yang tersembunyi di dalamnya.

Kita mengenang masalah, dan menyesal karena tak mampu memahami pelajaran hidup yang Tuhan selipkan di antaranya.

Kita mengenang cinta, dan menyesal karena tak sempat mengatakannya.

Kita mengenang cinta, dan menyesal karena ragu menyatakannya.

Kita mengenang cinta, dan menyesal karena urung merendah demi mendapatkannya.

Kita mengenang cinta, dan menyesal karena terlalu sibuk untuk menikmatinya.

 

Dear,

Kita baru memikirkan perpisahan dan kematian, hanya ketika ia akan segera datang.

Dan…Kita mengharu biru.

Kematian bagaikan akhir dari segala, dan tak ada lagi yang cukup berarti untuk diperjuangkan.

 

Dear Cinta,

Kematian bukan perpisahan.

Ini hanya perjalanan yang sedikit lebih jauh, dan sedikit lebih lama.

Seperti berpindah rumah,

Hanya saja.. di tempat yang berbeda.

 

Dear Cinta,

Jika aku harus pergi sekarang,

Merindulah. Namun jangan berduka..

Karena aku masih di tempat yang sama,

Tempat engkau menyimpa cinta:

Dalam hatimu.

 

Dear Cinta,

Aku hanya pergi seperti biasa.

Hanya saja… di sini tidak ada sinyal untuk menelponmu 🙂

Dan aku mungkin masih lama untuk kembali menggenggam tanganmu.

 

Dear Cinta,

Jika aku harus pergi sekarang,

Merindulah. Namun jangan berduka..

Jangan bodoh dan meminta untuk menyusulku segera.

Antri, Cinta… Antri.. 🙂

Bukan waktumu sekarang.

 

Jadikan hidupmu berarti lebih dari aku mengartikan hidupku.

Dari sini, aku minta Tuhan untuk menjagamu.

Sementara aku..

Yah, aku masih akan selalu ada

Dalam hatimu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s