Cinta (di) Perempatan


Jiwaku lekat,
lekat melekat pada lampu jalan,
pada kamar-kamar petak,
dan ranjang busuknya.

Hatiku lekat,
lekat melekat teringat padanya
yang menanti harap-harap
dalam rumah tak layak.

Mataku lekat,
lekat melekat menatap penyusur malam
yang penat,
yang mencari pelepasan.

Tubuhku lekat,
lekat melekat merapat pada peluh keringat
yang menempel nafsunya
pada lembar-lembar mengkilat.

Hidupku lekat
lekat melekat di perempatan,
dan melekat lebih erat padanya
yang menunggu harap-harap
dalam rumah tak layak.

25 Mei ’08

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s