Seribu Tetesan Hujan


Seribu tetesan hujan,
di butirnya aku masih melihat senyuman.
dan suara pecahnya ketika ia memukul jalan,
dan suara tangisnya ketika ia mengalir pelan.

Seribu tetesan hujan,
dulu jatuh di atas kepala kita
yang tertawa-tawa;
masih muda dan sedang jatuh cinta.

Kita lupa
bahwa akan ada akhir untuk segala.
Aku lupa
bahwa hanya aku yang jatuh cinta,
dan ketika semua harus jadi kenangan,
hujan menjadi begitu muram..

Seribu tetesan hujan,
di bawahnya kita berbagi cerita
apa yang akan kita lakukan di masa depan;
kita nyanyikan lagu harapan

Seribu tetesan hujan,
getar senar melayang di antaranya,
suaramu dan suaraku berdansa bersama-sama.

Seribu tetesan hujan,
sekarang mengalir begitu saja,
memukul-mukul atap rumahku
dan bergabung dengan hujan di mataku.

Seribu tetesan hujan,
rinainya yang biasa damai
seperti mengejar,
membawa kenangan di tangannya,
memaksa untuk kembali dikenang.

Cintamu itu duka!
kenangan kita menjadi luka.
Aku ingin pergi agar lupa.
Sehingga senyummu yang biasanya buat aku bahagia,
tidak lagi buat aku merana.

9 Jul ’13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s